Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Januari 2010

bienvenidos a Montevideo!









.....
nine days after new year, we, ibu2 DWP decided to use the last treasures to go for a PP trip to Montevideo, Uruguay. asking Eva y Pak waridin to join the crowd and of course, to be our photographer heheh. Deciding to go on a Buquebus was a brilliant idea,, the ship was as pretty as her name, "Sylvia Ana". 3 hours of cruising (including an hour sleeping)was joyful enough before we hit the land of Uruguay..

Rabu, 06 Januari 2010

Caramba... 2010!!


Yay..2010!!
Celebrating new year’s eve with bunch of kbri’s chicos. Pak Rudi, Santiago, Tia, Astrid, Rendy, Carla n su hermano,, and ofcourse,, my lovely cutie hubbie. Finally arrived after half hour striving to get a stupid taxi in new year’s eve was not easy as in Jakarta. ‘Olla que tal? Passas por Sinclair 2955? eum,, entre Juncal y cerviqo, gracias!’ Phiuhhhh…. Wasn’t funny at all if we din get a ride after cooking half hour of sauté beef with champignon, vegetables and oyster sauce.. and we din even get to the place!! Alhamdulillah 
They are barbequing the Indonesian satay at the balcony.. apparently they also just started to cook at this (almost) 11 pm! Mmmm… the smell was sooo…. Satay in Puncaak!!! Dunno the secret ingredients Pak Rudy had in all those mouth watering satay.. yummm..
I was pretty intense that nite since I lost my video of fire works on Christmas Eve at Parque de Recoleta.. and swear to myself I will get one TONITE. Anticipating every minute went by,, coz we need to run to Puerto Madero to catch the biggest fire work in Buenos Aires. OMG,, the dinner was finally ready at…. ..11.45pm!!! and that means… no fireworks dear  ….and there we were.. enjoying the delicious satay, wok vegetables and my cooking .. yummy umm… ennnaakkkk!!!!
11.59.59………FELIZ ANOOO!!!! SALUUUDD!!!! Toast with aqua sin gas hehe… met taun baru guyyssss 

We walked to Libertador and Bullrich and wherever it needed to get as close as it can get to fireworks.. but shame on us… pas uda deket.. ehh abis haha… myuter myuter finally stranded in this street of Scalabrini Ortis y J Luis Borges.. and heading to local bars that filled with drunk people… tired… we sat in a small park under the big trees.. and Rendy, Carla y su hermano came to join the last fun.

...HAH!! FINALLY!! I GOT MY NEW YEAR’S EVE FIRE WORKS!!!! right above my head and the trees they sparkled beautifully for 5 minutes! Iam so happy!!... but why oh why… I forgot to switch on my video cam.. huk...
...
Going back to Pak Rudi's apt with Rendy’s car (Thank God) ngumpul ngumpul bentar and finally going home with –again- Rendy,,, step down at Coronel Diaz and took a 3 am taxi and heading home…. Hoahemmmm… what a nite...

Senin, 08 Juni 2009

Pulang (lagi) ke Jogja part 1

Pulang lagi ke jogja.. ada pengajian untuk almh. nenek kami, mbah Tri tercinta. Seneng rasanya mendarat di bandara Adi Sutjipto. Trus menyusuri jalan dan akhirnya sampai di Wisma Nendra, tempat kami biasa nginep yang sudah seperti rumah kedua. Kamarnya juga yang itu-itu saja, nomor 101, dan spesial (selalu) untuk saya, extra bed besi yang kalo ditekuk n didudukin bunyi kriyek kriyek..

Hari kedua setelah pengajian kita ke Ngawonggo, pertengahan antara Jogja-Solo, disana ada rumah pendopo besar kuno peninggalan bapaknya mbah kakung ku, nah lo, kebayangkan berapa ratus tahun umur rumahnya.. semenjak mbah putri berpulang, isi dari rumah itu bisa segera dikosongkan, alias diwariskan kepada putra-putrinya. Bayangkan saja, gebyok jati super besar yang nempel didinding itu bisa bernilai milyaran rupiah! Dulu orang-orang asing pernah datang dan menawar beberapa barang dengan harga-harga yang asik banget,, tapi dulu not yet for sale, karena mbah Tri belum berpulang (missing u mbah Tri..), dan kondisi mbah kakungpun belum seperti sekarang. Sayang banget, selang bertahun-tahun properti itu berada disana, ternyata banyak barang kunonya yang hilang seperti piring dari cina, yah gak mungkin dusss lenyap gitu aja,, pasti ada yang ngambil.. hiks.. selain nilainya yang fantastis,, yang aku sayangkan sekali adalah nilai sejarahnya itu loh.. kan bisa aku frame ato buatin kotak kaca sekadar untuk mengabadikan masa lalu.. akhirnya aku ngambil aja benda-benda kecil yang tidak terpikirkan untuk diambil para ahli waris, aku dapat kalender kayu dan jam dinding kayu, dua-duanya sudah lumayan rusak, kecuali jam dinding yang kalo tuasnya diputar masih bisa bunyi, dan kalo berbunyi suaranya seram banget kaya film-film horor. Jam dinding itu aku bawa pulang ke Jakarta naik pesawat dan aku taruh di kabin, dan ketika landing dan menuju ke tempat pemberhentian, sumpah jam rusak itu bunyi klinting-klinting-klinting yang lumayan kenceng,, kwakwaww… aduh pura-pura bukan punya gw aja lah, malu banget!

Tour de Bantul et Kotagede
Aniwei, gw seneng banget jalan-jalan ku di Jogja-Solo ini. Misi perjalanan ini menyambung yang dulu, yaitu masih berkutat mencari bahan-bahan batik, kerajinan kayu, dan asesoris logam. Dan kamu tau? 99% suksesss!!!!! Memabukkan tapi lezat..

Semula sebelum kepergian kesana aku cuma ada rencana kesana kesini kesitu, cari ini, cari itu, tanya ini, tanya itu. Yang aku ga tau adalah bagaimana caranya menjangkau tempat-tempat itu, karena tersebar di daerah Bantul dan Kotagede. Subhanallah, gak dinyana, ternyata mama pesen mobil sewa untuk nganterin soan ke saudara-saudara, dan jam 1 siang mobil sewaan itu (beserta supirnya dong) sudah selesai dipakai dan nganggur sampai jam 8 malam!

“dik, pakai saja mobilnya kalau kamu mau kemana-mana”

Waaak, ga pake babubu, langsung minta mas Fajar cari kerajinan kayu di daerah Pajangan. Ternyata pertemuan dengan mas Fajar ini juga sangat membawa berkah, selain orangnya saleh, jujur, pintar, dia juga punya inisiatif tinggi! Tanpa diminta, dia langsung telpon temen-temennya untuk tanya area2 pengrajinan, dan potensi untuk kerjasama dengan LSM Pemberdayaan Wanita “Budi Annisa” yang di Jogja. Walhasil, kita ngejumpruk di Kasongan. Sepanjang 1 km kanan kiri jalan adalah kios2 kerajinan kayu dan keramik, bahkan banyak yang berkualitas ekspor. Lucu-lucu banget, senyumku tambah sumringah.. bisa nanya beberapa hal yang penting, tapi belum bisa pesan karena emang belum siap mau pesen apa. Ternyata ada macam-macam kayu yang bisa digunakan: Sengon adalah yang paling murah karena cepat patah, Akasia, Glugu hampir sama dengan Mahoni, ini sudah lumayan bagus tapi masih bisa dimakan rayap, Jati memiliki serat kuning harganya hampir 2 kali lipat Mahoni dan sering digunakan untuk membuat furniture, terakhir adalah Sonokeling, ini mbahnya kayu, kualitas super, seratnya kehitaman, berat dan halus, lebih baik tidak diwarna karena seratnya sudah keliatan istimewa, jadi cukup di-milamix doff saja.

Panas menyengat, parkir deket sawah kecil, dan sudah jam 2.30an, akhirnya lanjut mencari kerajinan logam. Jemput sodaraku si All-Fitri-Biy didepan RS Bethesda, kita langsung meluncur ke Kotagede, depan PKU Muhamadiyah kita belok kanan ke daerah Kemasan, dan seperti di Kasongan, sepanjang jalan kenangan kanan kirinya adalah kios-kios industri kerajinan perak, kuningan, dan tembaga. Saking banyaknya, mau pilih yang mana masih bingung, tambah kacau lagi ternyata turun hujan yang cukup heboh sampai jalanan tergenang. Mati aku…. Berarti gw ga bisa cicipi satu persatu kios-kios itu dong… kuyup lah guwe.. akhirnya kita berhenti di kios yang ditunjuk sama mas Fajar, namanya “Mawar Putih”.. taelah rumantis amats.. syukur alhamdulillah… yang punya kios ramah banget, dan kerennya lagi, gw bisa pesen dengan jumlah sedikit dulu dan tidak mahal  bahkan dia punya beberapa contoh persis seperti yang aku mau. Akhirnya aku pesan beberapa bentuk untuk sample, dan minta dikirim ke Jakarta, tapi sampai hari ini belum ada kabar.. mudah2an kagak ditipu aja hehe…

Pulang anter Fitri ke Jetis, mampir bentar ke sweet homenya dan ngeliat foto album kawinannya doi, ketemu Andre yang shock liat gw karena dia cuma pake celana pendek. Sampai wisma jam 5.30an dan langsung istirahat sambil senyum….

Senin, 24 Mei 2009

Mama papa jam 5.30 udah pulang ke Jakarta duluan, meninggalkan aku sendiri di kamar wisma dan gak bisa nyetel tivi. Jam 9an cek out dan jalan kerumah mbah sambil bawa koper dan troli, numpang makan pagi, pesen becak, dan out me go to Malioboro! Hari lumayan cerah, aku awali dengan beli beef burger dan spicy chicken burger untuk Fitri – yang mau cabut awal dari kantor hanya untuk nemenin ‘mbaknya’ ngubek-ngubek Jogja lagi.. padahal doi lagi hamil 2bulanan.. (tks lot sis ). Batik-batik lawas yang 10 taun lalu berceceran di trotoar2 Malioboro uda gak ada lagi.. hiks.. sedihnya diriku… ternyata mereka sudah tau kalau saat ini nilai batik2 lawas –yang mereka sendiri sudah ingin dibuang- itu dibandrol tinggi ratusan ribu sampai jutaan rupiah! Padahal dulu saya sempet beli hanya 10ribu rupiah saja. Jalan terus liat2 toko batik di kanan jalan… mata saya mau copot pas ngeliat diantara bentangan kain batik tersembul beberapa helai kain tenun Jepara. Dan lebih copot lagi, ketika tau bahwa untuk ukuran 140x260 itu harganya hanya 115ribu rupiah saja!!!!! Bandingkan dengan tenun sulawesi atau NTB.. itu harganya bisa 5 kali lipat!! Akhirnya sukses nggondol 3 kain tenun, dua tas tenun (satunya untuk Fitri) dan pajangan dinding tenun pesenan konco-ku, duh beratnya bo….

Belum selesai penderitaan dan kebahagiaanku, aku lalu ke pasar Bringharjo yang cuma 150 meter dari toko tenun itu, mau liat2 batik Jogja dan lagi-lagi nyari pesenan temenku. Masuk lewat pintu Barat, aku bingung pake strategi apa untuk menyisir pasar ini dengan efektif, efisien dan komprehensif. Aku iseng ah.. belok kiri sini dulu deh…. Kios Hj. Soegeng…. Hm… koleksinya lumayan lengkap, kualitasnya bagus,, dan kayanya ibu ini jujur… tapi yang paling menyenangkan lagi adalah,,, aku dikasih murah! Bayangkan, untuk kain seharga 75ribu ketika ditawarkan ke orang lain dibilangnya 85ribu! Dan lebih bahagia lagi ketika dengan mudahnya aku menemukan motif batik yang spesifik pesenan temenku itu. Akhirnya mborong 11 helai kain batik dengan total belanja 590ribu rupiah saja. “panggil saja Bude… nanti biar langganan…” (duh serasa kejatuhan duren Bangkok…amin amin amin!)

Dibonceng Fitri sambil meluk barang belian ku dan sebagian lainnya disempilin deket kaki Fitri. Mampir di stasiun Lempuyangan untuk liat jadwal kereta ke Solo, hm.. ternyata jam 4.09 tiba dan berangkat jam 4.11.. Sampai dirumah mbah, kita istirahat dan makan siang, aku dibeliin ayam goreng Cak Koting (yum…. syedaap..) beres-beres packing untuk semalam dirumah Solo.. aku salah perkiraan bawa tas nya, aku cuma bawa tas ransel untuk nampung semua keperluanku selama di Solo,, jadinya ransel ku pepet-pet! Buerat dan gendut banget! Aku sempetin tidur sebentar di kamar Lalita yang ‘wangi’ minyak tawon.. tanpa mandi aku diantar Fitri ke stasiun dan tiba disana jam 4 kurang 5menitan. Say good bye ke Fitri aku langsung ngantri di loket. Wow, harga tiketnya cuma 7000 aja say… gak dapet tempat duduk, aku lesehan di lantai sambil makan beef burger….

Selasa, 21 April 2009

lumayan sama lontong


jalan-jalan ke Tawangmangu beberapa lebaran yang lalu. Terdampar di jalanan dan menemukan harta karun sate kelinci. Gelar tiker tepat didepan pak sate. Aku dan belasan sodara-sodara mantengin adi karya kuliner itu biar cepet pindah tempat ke perut kita hehe.... dan satu hal lagi,, lumayan... pake lontong :p.

Minggu, 22 Februari 2009

say iam not desperate?

Say iam not desperate?? ….Well check again!


Siang bolong. Puanas. Di hari kerja. Di jam kerja. Pada saat teman, sohib, sodara, ipar, tetangga, pada asyik duduk depan komputer, dibawah AC, sembari mencari segenggam logam mulia.. gw malah duduk diantara 50-an ibu-ibu dan nini-nini, didepan panggung demo, dibawah tenda hijau, mencari segenggam buku resep yang dibagiin panitia …. Yeap that’s me in the middle with my manyun face. Diajak mertua liat demo masak ibu Sisca Soewitomo yang sebenernya bisa dibuat enjoy juga.. gitu-gitu kan nambah wawasan lho… masak. hehe. Menu hari itu adalah nasi oncom teri, zebra cake dan pasta. Jujur aja, seandainya matahari gak nongkrong bareng kita untuk liat demo hari itu, gw bisa amat sangat menikmati pertunjukan itu. Sebagian tamu uda mulai kipas-kipas dan menyiapkan payung just in case pas bubar masih kudu jalan pulang kerumah. Tapi emang dasar gembul, secara hasil demo masak itu semuanya dibagiin satu-satu ke para tetamu termasuk saya ini, walhasil, atas nama prinsip ga mau rugi, ludes lah 3 piring kecil yg diberi ke saya, malu deh, padahal mertua aja ga abish wekekek… dan gong-nya lagi,, ternyata saya dapet door-prize berupa 3 loyang beraneka bentuk dan berkesempatan diabadikan oleh sang juru potret… dan jadilah muke gile saya terpampang dengan manisnya di tabloid mingguan itu… yaikksss!

Sabtu, 20 Desember 2008

Pulang ke Solo

Laweyan, 2 desember 2008. 20.48
Pas byar sampe rumah eyang aku uda disambut dengan sego liwet yang dibungkus daun pisang 2 porsi lengkap dengan ayam dan sayur labunya hmmm…. Uniknya ada aroma bakaran-nya.. apa yang dibakar ya?? Mungkin sayur labunya dimasak di atas arang kali ya… jadi beda sensasinya sama makan sego liwet di Jakarta. Minumnya pun sudah disiapkan. S.O.P nya juga sama dimana-mana kalau njamu ‘tamu’, yess.. teh manis. Tehnya dituang dalam cangkir keijo-ijoan dengan motif kontemporer, tapi jangan salah.. walau ‘lahiriah’ nya udah modern, ‘batiniah’ nya tetep ‘njawani’, alias muanis tenannn, dalam hal ini saya bukan putri Solo lagi.. akhirnya saya sisihkan setengahnya dan saya tambahin air panas.. wah pass.. sedappp…

Kepergian saya ke Solo kali ini memang lagi ada misi khusus, yaitu mau liat2 batik di Pasar Klewer, Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman,, katanya batik Solo lagi seger2nya berkembang,, masih hot from the oven :D. Tapi karena krisis ekonomi ini, katanya bahan baku (yang ternyata masih import -hiks) jadi jauh lebih mahal, walhasil, produksi dan pembelian pun anjlog.



Ditemenin sama tante dan pak becak, hari pertama pun saya gunakan dengan menelusuri Kampung Batik Laweyan, walaupun saya uda sering naik becak, tapi lucu juga jalan-jalan kali ini, kaya punya supir pribadi hihiii… Ternyata lumayan juga, ‘lay out’ kampung batik itu seperti ada satu jalan utama panjaang yang kanan kirinya banyak toko-toko batik, tapi kalo kita belok kanan kiri masih ada juga toko2, tapi emang lebih nyempil2, kerennya lagi di tiap belokan ada plang khusus yang menuliskan toko apa aja yang ada didalam ‘sempilan belokan’ itu, bahkan bukan cuma toko batik aja yang ada, sampai ‘rumah2 kuno’ pun dijadikan pusat atraksi. Tapi ada yang saya sayangkan, …. Harganya mahal cuy…. Yah agak jauh lebih mahal dari Pasar Klewer lah… tapi saya pikir ya tak apa juga.. karena disana kan untuk gaet turis asing dan ‘tamu tamu agung’ dari Jakarta… dan rupiah buat mereka sih cincay banget.. kalo kita turis menengah lokal mah ke Klewer aja yuuk… Akhirnya saya ga sempet liat2 lebih jauh, karena puanas buangett, semilir angin di becak rasanya tidak sanggup menangkis sengatan raja siang itu..

Tegalayu, 3 des 08, 06.30
‘Kamu mau sarapan lontong sayur apa brongkos?’ Tanya tanteku jam 6 pagi. Buset, jam segini uda ditawarin makan? .. eum.. b r o n g k o s..? kaya apa tuh… akhirnya ya saya pilih saja si brongkos dengan harapan mendapatkan sajian yang unik dan tidak terlupakan. Kamu tau bagaimana rupa si brongkos ini? Dari namanya sendiri sudah aneh, rebelius, bahkan terkesan nge-bronx dan metal abis.. dan … Jenggreeng! bener juga temans,, tampangnya emang sesuai dengan namanya!


….Yap, hitam legam seperti saya! Hahaha… tapi ternyata rasanya enak lho, bahkan enak banget! gak manis seperti saudara-saudaranya,,, gurih.. agak asin.. ada pedesnya dikit… dengan anggota keluarga telor, nangka, krecek dan kerupuk keriting.. cukup berat untuk sarapan, tapi okelah untuk rasa :D. Lagi-lagi saya dipertemukan dengan teh super manis persis seperti kemarin dan masih dengan gelas yang sama pula. Duh, saya merasa lebih manis 360 derajat hehee..

Tour de Solo kali ini adalah Pasar Klewer dan Kampung Batik Kauman. Saya jadi malu karena sebagai putri (dari) Solo dan hampir tiap lebaran mudik,, tapi tetap saja pasar legendaris ini baru sampai di telinga saja,, baru saat inilah rasanya saya menginjakkan kaki di tanah Klewer, beruntung banget Klewer ini uda seperti home sweet home buat tanteku,, tanpa perlu mblusak-mblusuk kita uda nangkring di kios batik yang bagus-bagus.. akhirnya dapet setelan selendang sarung buat mbak-ku, dua hem buat om-ku dan bed cover buat sohib-ku.. dengan tentengan sebesar itu jadilah posisi saya lucu banget boncengan di motor. Tapi perjalanan menuju Kauman gak jadi karena akhirnya bisa ketemuan sama temennya mama yang ngerti banget seluk beluk batik Solo,, ngobrol ngalor ngidul gak keruan ditemani dengan (lagi-lagi) teh manis.. cukup seru untuk menutup perjalanan hari ini.. dan niatan ke Kauman.. mungkin lain kali saja… beside, Solo still my home.. :D